Hidup di Tengah Dunia, Namun Berakar pada Kristus: Peran Kaum Awam dan Religius dalam Gereja
![]() |
| (Sumber gambar: Google) |
Ketika berbicara tentang Gereja, banyak orang masih membayangkan bahwa Gereja terutama adalah para imam, biarawan, dan biarawati. Padahal, kenyataannya Gereja justru terdiri terutama dari kaum awam, yaitu semua orang beriman kristiani yang bukan termasuk golongan imam atau status religius. Kaum awam adalah bagian dari umat Allah yang, berkat sakramen baptis, telah menjadi anggota tubuh Kristus dan turut serta dalam imamat, kenabian, serta rajawi Kristus. Dengan caranya masing-masing, kaum awam mengambil bagian dalam perutusan Gereja di tengah dunia, di mana mereka hidup, bekerja, dan berinteraksi dengan sesama.
Lumen Gentium art. 31 menegaskan bahwa kaum awam memiliki martabat yang sama dengan para imam maupun kaum religius. Kesamaan ini melekat karena semuanya telah lahir kembali dalam Kristus melalui pembaptisan. Kita semua adalah satu umat Allah, satu keluarga yang dikuduskan dan dipersatukan dalam Roh Kudus yang berdiam dalam diri setiap orang yang percaya. Martabat ini memampukan setiap orang beriman untuk berjalan menuju kesempurnaan hidup kristiani, serta mengambil bagian dalam karya keselamatan yang dijalankan oleh Gereja sepanjang sejarah.
Namun, di tengah kesamaan itu, ada pula perbedaan fungsi. Para imam memiliki imamat jabatan yang khusus untuk tugas-tugas sakramental dan pelayanan liturgi. Kaum religius menjalani hidup yang ditata melalui kaul-kaul untuk memberi kesaksian eskatologis tentang kehidupan baru dalam Allah. Sedangkan kaum awam justru dipanggil untuk hidup dalam keduniaan. Mereka mengurusi hal-hal yang fana: bekerja, mengurus keluarga, membangun masyarakat, dan mengambil bagian dalam budaya serta kehidupan sosial. Tetapi semua itu dilakukan bukan sekadar demi dunia, melainkan untuk mencari Kerajaan Allah di tengah dunia itu sendiri.
Karena itulah, kerasulan awam memainkan peran yang sangat penting. Ada tiga lingkup kerasulan awam. Pertama, kerasulan awam gerejani, yakni peran awam dalam membantu kebutuhan internal Gereja, seperti kegiatan liturgi dan pelayanan pastoral. Kedua, kerasulan madya, yaitu usaha untuk menjembatani kehidupan Gereja dan masyarakat, misalnya dalam karya sosial. Dan ketiga, kerasulan murni awam, yaitu kesaksian iman di tengah kehidupan nyata: di ruang politik, ekonomi, pendidikan, budaya, hingga sosial kemasyarakatan. Dalam kerasulan murni inilah kaum awam dipanggil menjadi terang dan garam dunia, menghadirkan nilai-nilai Injil dalam keputusan-keputusan nyata.
Hubungan antara hierarki Gereja dan kaum awam bukanlah hubungan yang berjarak, melainkan hubungan yang saling membutuhkan. Hierarki memberikan pelayanan sabda dan sakramen, membimbing umat agar tetap berada dalam kesatuan iman. Di sisi lain, kaum awam memberikan kontribusi berupa keahlian, pengalaman hidup, dan suara hati yang lahir dari pergulatan sehari-hari. Para pemimpin Gereja diharapkan mendengarkan, menghargai, dan mendukung peran kaum awam dengan penuh kasih.
Di tengah panggilan yang berbeda-beda ini, kaum religius pun memiliki tempatnya sendiri. Mereka menunjukkan kesucian dengan menata hidup melalui doa dan penghayatan ajaran injil. Sementara itu, kaum awam menampakkan kesuciannya dengan setia menjalani kehidupan keluarga, bekerja dengan jujur, memelihara kasih, serta menghadirkan persaudaraan sejati dalam kehidupan sosial. Mereka berbeda, tetapi saling melengkapi.
Pada akhirnya, kaum awam bukanlah pelengkap dalam Gereja, melainkan bagian inti kehidupan Gereja itu sendiri. Mereka hidup di tengah dunia dan justru dari sanalah Kristus ingin dihadirkan. Di ruang kelas, ladang, pabrik, pasar, perusahaan, pemerintahan, serta keluarga, di sanalah Injil menjadi nyata. Kaum awam menghadirkan Gereja di tempat di mana imam dan biarawan tidak selalu bisa berada setiap hari. Melalui hidup dan kesaksian mereka, Kerajaan Allah disemai secara perlahan namun pasti, dalam irama kehidupan sehari-hari.

Komentar
Posting Komentar