GEREJA SEBAGAI UMAT ALLAH, MEMPELAI KRISTUS DAN RAHASIA ILAHI

 

 
(Sumber gambar: Becky Porter-Pinterest)
 

    Yesus Kristus diutus oleh Allah untuk mewartakan kerajaan Allah kepada umat manusia. Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus Kristus bukanlah suatu wilayah geografis seperti kerajaan pada umumnya yang kita kenal, misalnya kerajaan Inggris atau kerajaan Belanda yang memiliki istana megah dan prajurit prajurit di dalamnya, melainkan situasi di mana kuasa Allah hadir dan dirasakan manusia. Kerajaan itu dapat dipahami dalam dua arti: pertama, sebagai pelaksanaan kekuasaan Allah; kedua, sebagai keadaan di mana kerajaan Allah diterima. 

    Tanda-tanda kerajaan Allah hadir melalui tindakan Yesus, baik lewat mukjizat maupun perumpamaan, salah satunya perumpamaan tentang biji sesawi. Kuasa Allah tampak nyata ketika dunia terbebas dari kejahatan, manusia menerima berkat, terwujud dunia tanpa kekerasan, serta semua orang mati dibangkitkan. Hal ini ditegaskan pula oleh Paulus bahwa kerajaan Allah bukan soal makanan atau minuman, melainkan kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita dalam Roh Kudus (Rm 14:17). 

     Gereja hadir untuk melayani kerajaan Allah. Yesus Kristus yang mewartakan kerajaan itu kemudian mempercayakan kelanjutannya kepada Gereja. Maka Gereja pertama-tama lahir dari pewartaan Yesus tentang kerajaan Allah. Konsili Vatikan II (LG) menyebut Gereja sebagai benih dan awal mula kerajaan Allah, meskipun belum sampai pada kepenuhannya. Oleh karena itu, Gereja disebut juga sakramen kerajaan Allah, yakni tanda dan sarana kehadiran Allah di dunia.  

                                                                                                                                                                    (Sumber gambar: Pinterest)  

   Dalam Kitab Suci dan tradisi Gereja, banyak lambang dipakai untuk menggambarkan Gereja. Ia disebut kandang dan kawanan domba, dengan Kristus sebagai Gembala Baik yang rela menyerahkan nyawa bagi domba-domba-Nya (Yoh 10:11-15). Gereja juga digambarkan sebagai tanaman atau ladang Allah (1Kor 3:9), kebun anggur surgawi dengan Kristus sebagai pokok anggur sejati (Yoh 15:1-5). Selain itu, Gereja dipahami sebagai bangunan Allah yang berdiri di atas dasar Kristus, batu sendi yang kokoh (Mat 21:42). Dalam tradisi iman, Gereja disebut pula sebagai Yerusalem surgawi, bunda kita, serta mempelai Kristus yang dikasihi dan dipelihara-Nya (Ef 5:25-29).

(sumber gambar: Pinterest) 

    Gereja adalah misteri, karena di dalamnya Kristus melaksanakan rencana keselamatan Allah untuk mempersatukan segala sesuatu dalam diri-Nya sebagai Kepala. Allah tidak menyelamatkan manusia satu per satu, melainkan membentuk mereka sebagai umat. Inilah sebabnya Gereja dipahami sebagai umat Allah, mempelai Kristus, sekaligus rahasia ilahi yang menghubungkan manusia dengan Allah.

    Lebih jauh lagi, Gereja disebut sakramen keselamatan universal. Artinya, dalam Kristus, Gereja menjadi tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah sekaligus persatuan antar manusia. Sebagai sakramen, Gereja adalah alat Kristus untuk menghadirkan cinta Allah kepada umat manusia. Di dalamnya, orang dari segala bangsa dipersatukan, sehingga Gereja menjadi proyek nyata dari kasih Allah yang menyelamatkan.

    Akan tetapi saat ini dunia menghadapi banyak persoalan yang menunjukkan betapa nilai-nilai Kerajaan Allah masih perlu dihidupi, misalnya perang dan konflik yang terjadi di Timur Tengah. Kekerasan dan kebencian menimbulkan penderitaan bagi banyak orang tidak bersalah. Situasi seperti ini berlawanan dengan tanda-tanda Kerajaan Allah yang diwartakan Yesus, yakni dunia tanpa kekerasan, penuh damai, dan sukacita. Gereja sebagai sakramen keselamatan universal dipanggil untuk menghadirkan nilai-nilai itu secara nyata: mewartakan damai, menegakkan kebenaran, dan membangun persatuan di tengah perpecahan. Dengan demikian, Gereja sungguh melanjutkan karya Kristus agar Kerajaan Allah semakin nyata di dunia.

(Sumber gambar: Pinterest)
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOINONIA SEBAGAI SALAH SATU TUGAS GEREJA

Gereja direncanakan oleh Bapa, didirikan oleh Putra, dan dinyatakan oleh Roh Kudus.