Gereja direncanakan oleh Bapa, didirikan oleh Putra, dan dinyatakan oleh Roh Kudus.

 


(Sumber gambar: https://share.google/images/jfgGein5AoJc7HdcD) 
 

    Gereja Katolik sangat identik dengan salib di atas bangunannya, tetapi dapat kita pahami bahwa gereja bukan hanya sekedar bangunan bersalib dengan artistik yang sangat khas. Gereja lebih dari sekedar bangunan fisik, tetapi juga dapat berbentuk bangunan rohani yang tumbuh dalam diri setiap manusia.  Kata gereja ini berasal dari Portugis yaitu igreja, Latin ecclesia, dan Yunani ekklesia. Akar katanya, ekkalein, berarti “memanggil keluar.” Jadi, sejak awal Gereja dipahami sebagai pertemuan orang-orang yang dipanggil secara khusus oleh Allah. Bukan sembarang kumpulan, tetapi persekutuan istimewa yang hidup karena iman kepada Kristus.

    Sering kali juga dipakai istilah “jemaat” atau “umat.” Namun, kata “Gereja” lebih tepat karena menegaskan identitas yang khusus. Gereja bukan sekadar kelompok sosial, melainkan persekutuan umat Allah yang dipanggil keluar dari dunia untuk berkumpul di hadapan-Nya. Kehadiran Gereja selalu terkait dengan liturgi, sebab di situlah umat sungguh berhimpun, mendengarkan Sabda, dan mengambil bagian dalam Ekaristi.

 
(Sumber gambar: https://share.google/images/6aSFYpUELBOn0ucXh) 

    Gereja hadir dalam lingkup lokal maupun universal. Gereja lokal, misalnya paroki atau keuskupan, tidak bisa berdiri sendiri. Ia sungguh menjadi Gereja hanya kalau bersatu dengan Gereja universal yang mencakup seluruh dunia. Gereja hidup dari Sabda Allah dan Tubuh Kristus, sehingga Gereja bisa disebut sebagai Tubuh Mistik Kristus. Puncak dari persekutuan ini ada pada perayaan Ekaristi, karena di sanalah umat dipersatukan dengan Kristus dan sesama.

    Kalau dilihat dari rencana keselamatan Allah, Gereja tidak berdiri sendiri. Konsili Vatikan II dalam Lumen Gentium menyebut bahwa Gereja direncanakan oleh Bapa, didirikan oleh Putra, dan dinyatakan oleh Roh Kudus. Sejak awal sejarah, Allah berinisiatif mengumpulkan umat-Nya. Abraham dipanggil menjadi bapa bagi suatu bangsa besar. Israel dipilih sebagai umat kesayangan-Nya dengan janji: “Aku menjadi Allah mereka, dan mereka menjadi umat-Ku.” Inisiatif Allah ini menunjukkan bahwa manusia diselamatkan bukan secara terpisah, tetapi sebagai satu persekutuan.

    Pemikiran ini juga ditegaskan oleh Santo Yustinus yang mengatakan bahwa dunia diciptakan demi Gereja. Maksudnya bukan lembaga dalam arti sempit, melainkan umat Allah yang dihimpun untuk mengambil bagian dalam kehidupan ilahi. Jadi, Gereja tidak bisa dipahami sekadar dari bangunannya, tetapi sebagai umat yang berjalan bersama menuju keselamatan. Inilah yang menjadikan Gereja selalu terkait erat dengan rencana Allah bagi dunia.

    Namun, dalam kenyataan sehari-hari terdapat tantangan yang besar yang relevan dalam berbagai paroki di dunia. Banyak umat mulai jarang hadir dalam perayaan Ekaristi. Ada yang sibuk, ada yang malas, bahkan ada yang merasa cukup beriman tanpa bergereja. Padahal, Ekaristi adalah pusat hidup Gereja. Ketika seseorang menjauh dari Ekaristi, ia perlahan menjauh dari Gereja itu sendiri. Fenomena ini sangat sering tampak pada orang orang muda, yang sering lebih mengesampingkan misa mingguan lalu memilih aktivitas lain di hari Minggu. Karena itu, perlu terus diingatkan: Gereja bukan hanya bangunan, melainkan persekutuan yang hidup dari Sabda dan Ekaristi. Tanpa itu, iman akan mudah layu.

 (Sumber gambar: https://share.google/images/Ir8qSNGWRHSIB0eAZ)


   



Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOINONIA SEBAGAI SALAH SATU TUGAS GEREJA

GEREJA SEBAGAI UMAT ALLAH, MEMPELAI KRISTUS DAN RAHASIA ILAHI