Kasih Allah Sang Pencipta dan Tanggung Jawab Iman Manusia

 

                                     (Sumber Video: Pinterest)

        Wahyu Allah hadir di dunia untuk menyapa manusia supaya setiap orang dapat berhubungan dengan-Nya. Melalui para nabi, hakim, dan raja yang diurapi-Nya, Allah terus berusaha meyakinkan umat Israel agar mengakui Dia sebagai Allah umat pilihan. Allah hadir dalam setiap peristiwa, baik suka maupun duka, dan manusia dapat menemukan wajah Allah di dalamnya, peristiwa sukacita disebut sebagai berkat, sedangkan dukacita menjadi salib yang harus dipikul. Gerakan zionisme yang lahir dari kerinduan bangsa Israel untuk kembali ke tanah perjanjian juga mencerminkan rindu akan perjumpaan dengan Allah. Dalam Kitab Suci Perjanjian Lama, Allah menampakkan diri sebagai Allah yang penuh belas kasih, bijaksana, dan berkelimpahan kasih setia. Walaupun manusia sering berpaling dari-Nya, Allah tidak pernah meninggalkan mereka, bahkan selalu memberikan kesempatan untuk bertobat selama mereka masih bernafas. Allah tetap menunjukkan wajah-Nya yang penuh kasih, menghukum sekaligus menjanjikan penyelamat agar hubungan yang rusak dipulihkan dari Adam lama kepada Adam baru, yakni Yesus Kristus Sang Juru Selamat. Karena Allah mengasihi manusia, manusia dipanggil untuk menyerahkan diri secara total pada penyelenggaraan Ilahi (Deus Providebit). Iman sejati, seperti dicerminkan para nabi, menuntut sikap tanpa ragu dan tanpa tawar-menawar. Santo Yakobus mengingatkan bahwa iman tanpa perbuatan pada hakikatnya adalah mati (Yak 2:14–26); maka iman harus diwujudkan dalam hidup sehari-hari.

         Kitab Suci menegaskan, “Beginilah firman Tuhan semesta alam: Akulah yang menjadikan bumi, manusia, dan hewan … dengan kekuatan-Ku yang besar dan lengan-Ku yang terentang” (Yer 27:5). Penciptaan adalah karya Allah semata. Manusia tidak mungkin memahami sepenuhnya karena tidak pernah menciptakan dari ketiadaan. Ayub menegaskan, “Jika Ia menarik kembali roh-Nya dan menarik kembali nafas-Nya, maka binasalah bersama-sama segala yang hidup, dan kembalilah manusia kepada debu” (Ayb 34:14–15). Kesadaran bahwa kita diciptakan dan sepenuhnya bergantung pada Allah meneguhkan bahwa hanya Dia sumber hidup sejati. Segala sesuatu akan binasa, namun Allah tetap ada selama-lamanya (Mzm 102:27–28). (Sumber gambar: Pinterest)

        Penciptaan adalah sesuatu yang unik. Allah yang tak terbatas menciptakan makhluk yang berbeda dari diri-Nya, memberi kebebasan dan kehidupan. Ketergantungan ciptaan pada Allah berbeda dari ketergantungan manusia pada manusia lain; semakin makhluk itu bergantung kepada Allah, semakin pula ia memiliki hidup sejati. Manusia sungguh ada dan mandiri justru karena diciptakan oleh Allah. Ini adalah misteri yang tidak dapat dibandingkan dengan pengalaman manusia, namun menjadi dasar relasi kita dengan Sang Pencipta.

        Kitab Suci dimulai dengan kisah penciptaan: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi” (Kej 1:1). Namun pengalaman iman Israel sendiri bermula dari panggilan Abraham. Kisah penciptaan menjadi refleksi kasih Allah yang mendahului segalanya: “Apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya? Namun Engkau telah membuatnya hampir sama dengan Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat” (Mzm 8:5–6). Kasih Allah telah hadir sebelum manusia dibentuk, sebagaimana firman-Nya kepada Yeremia, “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau” (Yer 1:5). Allah menciptakan manusia sebagai sahabat dan mitra dialog, memberikan kebebasan penuh agar manusia dapat merespons kasih-Nya secara bebas dan bertanggung jawab.

 (Sumber gambar: Pinterest)

 Kisah penciptaan tidak dimaksudkan sebagai laporan ilmiah. Dua kisahnya, yakni Kejadian 1:1–2:4a dan Kejadian 2:4b–25, ditulis dalam bahasa puitis yang sarat makna. Mazmur 33:6–9 menegaskan bahwa oleh firman Tuhan langit dijadikan dan oleh napas-Nya segala tentaranya ada. Enam hari penciptaan hanyalah kerangka, bukan proses ilmiah, dan puncaknya adalah hari Sabat ketika Allah berhenti dari pekerjaan-Nya (Kej 2:3). Bahasa puitis seperti pembentukan Hawa dari rusuk Adam (Kej 2:21) menekankan kesatuan mendalam antara laki-laki dan perempuan, bukan rincian biologis. Kitab Suci tidak bermaksud menjelaskan teori evolusi atau Big Bang, melainkan menegaskan bahwa segala yang ada berasal dari Allah dan tergantung sepenuhnya pada-Nya.

        Dalam perkembangan ilmu, terdapat teori Big Bang dan steady state yang mencoba menjelaskan asal mula alam semesta. Teori Big Bang menyatakan bahwa alam semesta bermula dari satu ledakan besar sekitar 10–20 miliar tahun lalu, sedangkan teori steady state berpendapat bahwa alam meluas tanpa awal dan akhir. Namun, teori-teori ini tidak bertentangan dengan iman karena Alkitab tidak menyingkap proses ilmiah, melainkan makna teologis: Allah adalah sumber dan tujuan segala sesuatu.

        Kitab Kebijaksanaan menegaskan, “Dengan firman-Mu telah Kaujadikan segala sesuatu, dan dengan kebijaksanaan Kaubentuk manusia agar ia menguasai segala makhluk … memerintah dunia dengan suci dan adil” (Keb 9:1–3). Manusia adalah wakil Allah di bumi, diciptakan menurut gambar-Nya (Kej 1:27), dan diberi kuasa untuk menamai segala makhluk (Kej 2:20). Sebagai pusat ciptaan, manusia dipanggil untuk memelihara bumi dan mengarahkan segala sesuatu kepada Allah, sebagaimana ditegaskan Konsili Vatikan II (GS 12). Kesadaran ini menuntut rasa syukur dan tanggung jawab dalam merawat alam serta menghormati kehidupan.

        Penciptaan bukan hanya peristiwa lampau, melainkan awal dan dasar sejarah keselamatan yang terus berlangsung hingga kini. Allah memanggil setiap orang untuk merayakan iman tidak hanya dalam doa dan liturgi, tetapi juga dalam tindakan nyata: mengasihi sesama, menjaga keadilan, dan merawat bumi. Iman yang hidup menuntut keterlibatan aktif, sebab iman tanpa perbuatan adalah mati. Allah menghadirkan kasih-Nya melalui peristiwa sejarah dan terus mengundang manusia untuk menjadi rekan-Nya dalam karya keselamatan.

        Namun di tengah panggilan luhur ini, muncul fenomena yang tidak sesuai dengan rencana Allah, salah satunya maraknya tren childfree di kalangan orang muda. Keputusan untuk menolak keturunan sering lahir dari alasan ekonomi, ketakutan, atau pandangan individualistis. Sikap ini bertentangan dengan tugas manusia sebagai pro-kreator, rekan Allah dalam menghadirkan kehidupan. Kitab Kejadian 1:28 menegaskan panggilan untuk “beranak cucu dan memenuhi bumi.” Menolak anugerah kehidupan berarti mengabaikan tujuan penciptaan yang dikehendaki Allah dan mengurangi makna keluarga sebagai tempat lahirnya kasih.

        Fenomena childfree menantang iman yang seharusnya dihayati secara utuh. Iman kepada Allah Pencipta mengajak kita membuka diri terhadap anugerah kehidupan dan memandang anak sebagai berkat, bukan beban. Dalam dunia yang kian individualistis, kita dipanggil menegaskan kembali bahwa keluarga adalah sarana kehadiran Allah yang penuh kasih. Dengan merawat bumi, menghargai hidup, dan menyambut karunia keturunan, kita mengambil bagian dalam karya penciptaan Allah serta menunjukkan bahwa kasih dan rencana keselamatan-Nya tetap hidup di tengah dunia ini. 

(Sumber gambar: Pinterest)

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

KOINONIA SEBAGAI SALAH SATU TUGAS GEREJA

Gereja direncanakan oleh Bapa, didirikan oleh Putra, dan dinyatakan oleh Roh Kudus.

GEREJA SEBAGAI UMAT ALLAH, MEMPELAI KRISTUS DAN RAHASIA ILAHI